Pages

Tampilkan postingan dengan label sekitar kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekitar kita. Tampilkan semua postingan

Kembali Pulang


Memaknai pulang akan terasa sama dengan memahami pergi. Pulang tidak lain adalah akibat dari suatu sebab bernama pergi. Rasanya tidak ada ke-pulang-an tanpa sebuah ke-pergi-an.

Pulang mempunyai banyak rasa. Semanis pulang saat kita rindukan sesosok tubuh yang penuh kasih sayang. Sehangat pulang saat kita butuh tempat penuh kedamaian. Atau bahkan sebaliknya, sepahit saat kita tersingkir dari kompetisi hidup yang memaksa kita untuk pulang. Asam, manis, asinnya membuat pulang begitu istimewa.

Pulang dan rumah adalah dua frase yang begitu akrab. Hampir semua ke-pulang-an berujung ke rumah. 

pergi-rasa-rumah

Dulu sekali saat pertama kali saya menulis untuk blog ini, saya terlanjur menyebut ruang maya ini sebagai -rumah-. Dengan segala alasannya, saya belajar memahami bahwa di

Tetap Menulis Adalah Solusi yang Tepat

Seperti biasa. Selepas kuliah, siang itu saya mampir ke sebuah warung makan dekat pojokan gerbang kampus. Sekedar menjawab teriak-teriak riuh cacing kecil di perut yang sejak tadi di kelas berdemo. Sepiring nasi, sepotong ikan, sayur lodeh dan segelas air putih menjadi sahabat terbaik siang itu. Dilengkapi selembar koran Sindo terlentang lusuh di dekat meja saya duduk. Entah ada angin apa, tumben saya tertarik membaca koran. Ternyata koran tak utuh itu tinggal menyisakan rubrik opini dan rubrik ekonomi dibaliknya. Di pojok kiri atas rubrik opini, terdapat sebuah kolom yang berjudul “suara mahasiswa”, sontak saya kaget. Tidak di sangka ternyata di masa seperti ini masih ada juga mahasiswa yang mau menulis opini di koran.


Katanya
Tidak salah. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa menulis opini di koran adalah hal mulia. Menulis di koran dipercaya mampu mencerdaskan bangsa. Dengan melakukan pembentukan opini publik, koran mampu menepiskan masyarakat dari pembodohan kenyataan sosial. Menulis di koran pun diyakini mampu menjadi kontrol atau penyeimbang kebijakan-kebijakan publik. Terlebih jika ditulis oleh insan bernama mahasiswa, sosok intelektual, insan kritis dan juga idealis. Jadi adalah wajar jika banyak menyatakan sangat penting jika mahasiswa menulis opini di koran. Terbukti selain manfaat yang diberikan ada sikap besar yang dilakukan mahasiswa dengan menulis di koran, yaitu eksistensi.

Nyatanya
Mungkin masih panas di ingatan kita bahwa ada hal yang menarik ketika perayaan Hari Pers Nasional tanggal 9 Februari kemarin dilaksanakan. Presiden SBY mencanangkan gerakan yang cukup unik lagi menarik, yaitu Gerakan Nasional Membaca Koran. Menjadi unik karena ini baru pertama kalinya digalakkan dan menjadi menarik karena seolah membaca koran adalah hal yang langka di masyarakat. Sebenarnya apa yang terjadi? Ternyata akar masalahnya hanya satu yaitu minat baca. Budaya membaca masyarakat Indonesia belum bisa dikatakan baik. Hal itu bisa dilihat dari beberapa indikator yang menunjukkan masih rendahnya kesadaran bangsa Indonesia akan nilai penting pengembangan minat baca tersebut. Untuk tingkat buta huruf penduduk Indonesia, diperkirakan masih mencapai angka di atas 8% (Depdiknas, 2007) dan berdasarkan hasil survei UNESCO menunjukkan bahwa negara Indonesia memiliki minat baca masyarakat yang paling rendah di ASEAN (Warta Online, 2011). Lalu dengan kondisi tersebut mungkinkah pernyataan yang menyatakan bahwa menulis opini di koran mampu mencerdaskan bangsa menjadi benar? publik mana yang akan dicerdaskan dengan koran? Publik mana juga yang akan dibentuk opininya melalui koran? Untuk segmen masyarakat urban, budaya membaca sudah merupakan suatu kebutuhan, tapi bagaimana dengan masyarakat rural yang tidak bisa terjangkau oleh distribusi koran? Bagaimana pula dengan masyarakat kecil yang tidak mampu membeli koran? Dan bagaimana pula dengan segmen remaja yang notabene sangat jauh dengan budaya membaca?

Beda masa, beda masalahnya. Beda masalah maka beda pula solusinya. Kita harus sadar bahwa mahasiswa sekarang hidup di zaman yang berbeda dengan pendahulunya semacam Soe Hok Gie yang lantang menyuarakan kebenaran lewat tulisan karena suatu rezim. Bukan pula seperti Bung Karno yang tangguh melawan neo-imperialisme dan komunisme. Komaruddin Hidayat menyatakan, mahasiswa sekarang tidak hidup dalam rezim kuasa lokal, tapi hidup dalam rezim zaman, yaitu globalisasi. Sebagai struktur besar, globalisasi telah menghilangkan daya kritis mahasiswa yang kemudian digantikan oleh pengaruh budaya konsumerisme, hedonisme dan perilaku budaya global lainnya. Jadi jangan heran jika mahasiswa sekarang jauh lebih suka nonton infotainment dari pada diskusi ngomongin politik atau pemerintahan karena mahasiswa produk reformasi dan demokrasi labil sekarang ini adalah mahasiswa yang “aman” (apatis) dari gejolak politik besar.

Lalu
Ketika kita berbicara tentang kemampuan, maka sepertinya tidak ada alasan untuk menyangkal bahwa “mahasiswa tidak mampu beropini di koran” pasti mampu. Kalaupun ada kesulitan yang timbul hal itu adalah wajar, karena menulis adalah pekerjaan yang susah-susah gampang. Tapi itu soal teknis yang bisa dipelajari solusinya. Yang menjadi titik penting adalah masalah kemauan. Bagaimana mahasiswa mau untuk melawan semua tantangan zaman yang telah diuraikan sebelumnya. Daniel Pink, dalam karyanya “ Whole New Mind: Why Right-brainers Will Rule the Future”, memprediksi bahwa masa depan dunia kelak akan dikuasai oleh manusia-manusia kreatif yang berbasiskan penggalian ide dari otak kanan. Jadi jelas bahwa jawaban atas tantangan tersebut adalah kreatifitas. Kita harus kreatif melepas belenggu bernama minat baca dan globalisasi. Tetap menulis adalah solusi yang tepat. Menulis untuk meningkatkan minat baca masyarakat, menulis untuk mencerdaskan bangsa, menulis untuk peduli, menulis untuk kritis, menulis untuk kontribusi keabadian, dan menulis atas nama kreatifitas.

Karena tulisan tak akan kadaluarsa.

REFERENSI


Jadi Solusi, Itu Pilihan

Akhir dari proses belajar bukan hanya ketika kita mampu memperoleh nilai sempurna pada hasil ujian. Tetapi jauh dari sana bahwa tujuan dari proses belajar yang kita lakukan adalah ketika kita mampu menjadikan ilmu yang kita pelajari berguna dan bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri terlebih untuk orang lain.

Oh ya, kita harus ingat juga bahwa hidup ini akan terasa lebih bahagia apabila kita mampu membahagiakan orang lain. Mungkin itu secuil makna dari kata berbagi. Berbagi tidak akan mengurangi apa yang kita miliki seperti pada hitungan matematika. Sebaliknya kita akan mendapatkan “lebih” setelah bisa “berbagi”, merasa jauh lebih bahagia dengan “berbagi”. Terutama berbagi akan ilmu kita. 

Pas liburan yang lalu pagi-pagi sekali (waktu itu hari pertama saya di rumah), tiba-tiba seorang tetangga datang ke rumah. Ternyata istri Mang Edi, Mang Edi sendiri adalah tukang ojek yang waktu saya SMA sangat setia mengantarkan saya ke sekolah. Tentu saja saya sambut dengan senyum hangat (sehangat mentari pagi itu, cie, ha). Kedatangannya terkhusus untuk menemui saya. Sontak saya kaget. Tumben baru aja mudik udah ada tamu . Apa saya punya hutang ?? haa. Ternyata dia mengeluhkan hape milik suaminya yang sejak tadi malam tidak bisa menyala dengan sebab yang tak pasti. Dan dia pun meminta tolong untuk diperiksa apakah saya bisa membantunya untuk menyalakan lagi hape tersebut (kayak dokter aja, hee). Hmm saya pun dengan ramah menerima hape yang bermasalah tadi. Untuk sekedar diotak atik sih, kali aja bisa nyala, haa sok tau. Setelah beberapa menit. Bismillah, ehh betul bisa nyala lagi. Alhamdulillah.

Seminggu kemudian, saya menemani kakak perempuan saya ke bank. Sambil menunggu antrean saya berbincang-bincang ringan dengan kakak di ruang tunggu. Tiba-tiba seorang ibu paruh baya datang menemui saya, beliau duduk di kursi di dekat kami duduk. Hampir sama dengan kasus di atas ibu itu datang menunjukkan hape nya yang tidak bisa beroperasi padahal katanya saat itu beliau sangat membutuhkan hape untuk menghubungi seseorang. Sedikit saya otak-atik alhamdulillah bisa beroperasi lagi. 

Ada perasaan senang, bahagia, dan bangga ketika bisa membantu orang lain. Ketika senyum manis tergurat di wajah mereka. Seperti ada kesejukkan sendiri terasa di hati. Contoh di atas sangat simpel hanya ngebenerin hape yang sebenarnya tidak dalam kondisi rusak (mungkin hanya hang saja). Bagi kebanyakan orang tua termasuk kedua ibu-ibu di atas, menghadapi masalah seperti itu memang sangat sulit. Apalagi di kampung yang anggap saja pengetahuan memang terasa sangat minim, masalah kecil seola besar, ditambah lagi kondisi yang panik dan mendesak membuat mereka tidak bisa berpikir jernih untuk menyelesaikan permasalahannya. Kehadiran kita sesungguhnya adalah solusi bagi mereka. 

Saya yakin di luar sana banyak sekali permasalahan yang “membutuhkan” tangan kreatif kita menjadi sebuah solusi. Tapi permasalahannya adalah seberapa siap kita untuk menghadapi permasalahan dunia yang sangat kompleks itu? Saya jadi berpikir bagaimana seandainya ada orang yang datang dengan mengeluhkan masalah-masalah hidupnya. Ekonomi? Pendidikan? Agama? Genteng bocor? Haa, De el el deh. Apakah saya bisa bantu mereka? (walaupun saya sadar kita bukan robot yang bisa ahli segalanya, tapi tidak salah juga jika kita berusaha untuk tau segalanya). Mungkin kuncinya hanya satu, ya sudah pasti kita harus banyak belajar. Menjadi sosok pembelajar sejati yang tak pernah lelah belajar. Tak kenal usia, tempat maupun status. Bukan belajar untuk satu bidang yang kita tekuni saja tapi segala jenis bidang ilmu (terutama yang bersentuhan langsung dengan masyarakat karena sejatinya kita adalah bagian dari masyarakat yang akan kembali ke masyarakat).

Sobat, percayalah hanya ada dua pilihan tentang keberadaan kita di masyarakat (sekarang dan kelak). Menjadi “masalah” masyarakat atau menjadi “solusi” masyarakat. Kita semua berhak memilih. Mau pilih yang mana hayo?